Sumber Belajar Berdasar Pengembangannya

Pengertian dari sumber belajar adalah daya yang bisa dimanfaatkan guna kepentingan proses belajar mengajar, baik secara langsung maupun tidak langsung, sebagian atau secara keseluruhan. Sumber belajar dalam artian sempit untuk pembelajaran yaitu berupa buku atau bahan cetak lain. Pengertian sumber belajar yang lebih luas berupa pengembangan-pengembangannya misalnya slide, video, film, dan lain sebagainya, bahkan lebih luas lagi sumber belajar dapat berasal dari pengalaman.

Dalam bukunya, Nana Sudjana (2007) membagi pengembangan sumber belajar dalam 2 macam:

  1. Sumber belajar yang secara sengaja dibuat atau dirancang atau dipergunakan untuk membantu belajar mengajar, biasa disebut learning resources by design (sumber belajar yang dirancang), misalnya buku, brosur, ensiklopedi, film, video, tape, slides, film strips, OHP. Semua perangkat keras ini sengaja dirancang guna kepentingan kegiatan pengajaran.
  2. Sumber belajar yang dimanfaatkan guna memberi kemudahan kepada seseorang dalam belajar yang berupa segala macam sumber belajar yang ada disekeliling kita. Sumber belajar tersebut tidak dirancang untuk kepentingan tujuan suatu kegiatan pengajaran. Sumber belajar ini disebut learning resources by utilization.  Misalnya pasar, toko, museum, tokoh masyarakat, dan sebagainya yang ada di lingkungan sekitar seperti taman, gedung lembaga negara, dan lain-lain.

Segenap sumber belajar yang dirancang maupun tidak dirancang diklasifikasikan sebagai orang, peralatan, teknik atau metode, dan kondisi atau lingkungan. Dalam praktiknya segala macam sumber belajar baik yang dirancang maupun dimanfaatkan tidak selalu harus dibedakan karena sangat sulit untuk diidentifikasi secara tegas.

 

Sumber:

Sudjana, Nana dan Ahmad Rivai. 2007. Teknologi Pengajaran. Bandung: Sinar Baru Algesindo

Pengelompokan Sumber Belajar Berdasar Wujud Atau Rupa

Sumber Belajar sangat vital peranannya dalam pelaksanaan pembelajaran. Penggunaannya benar-benar tidak dapat dipisahkan dalam pembelajaran. Berbagai macam jenis sumber belajar tersedia. Baik buku, kamus, hingga lingkungan sekitar pun bisa dijadikan sumber belajar.

Klasifikasi dalam mengelompokkan sumber belajar berdasarkan wujud atau rupanya adalah:

1.    Sumber belajar tercetak: buku, majalah, brosur, koran, poster, denah, ensiklopedi, kamus, booklet, dan lain-lain.

2.    Sumber belajar non-cetak: film, slides, video, model, audiocassette, transparansi, realia, objek, dan lain-lain.

3.    Sumber belajar yang berbentuk fasilitas: perpustakaan, ruang belajar, carrel, studio, lapangan olah rag, dan lain-lain.

4.    Sumber belajar berupa kegiatan: wawancara, kerja kelompok, silmulasi, observasi, permainan, dan lain-lain.

5.    Sumber belajar berupa lingkungan di masyarakat: taman, terminal, pasar, toko, pabrik, museum, dan lain-lain.

Pengelompokan sumber belajar ini sangat penting terutama ketika dalam pembuatan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran. Pemilihan sumber belajar yang tepat akan berdampak baik pada pelaksanaan pembelajaran.

 

Sumber:

Sudjana, Nana dan Ahmad Rivai. 2007. Teknologi Pengajaran. Bandung: Sinar Baru Algesindo

Sistematika Penyusunan Skripsi Secara Umum

Untuk mempermudah dalam pembuatan Skripsi, perlu diperhatikan dalam penyusunnannya. Oleh karena itu Sistematika Skripsi yang baik dan benar sangat diperlukan.

Secara garis besar Skripsi dapat dibagi menjadi tiga bagian, yaitu awal, isi, dan akhir. Cukup Sederhana, berikut adalah sistematika skripsi secara umum.

1.    Bagian awal skripsi terdiri dari halaman judul, halaman pengesahan, halaman motto dan persembahan, sari, kata pengantar, daftar isi,daftar gambar, daftar tabel, dan daftar lampiran.

2.    Bagian isi skripsi terdiri dari lima bab yaitu:

-    BAB I  : Pendahuluan, dalam hal ini penulis menguraikan tentang latar belakang, permasalahan, tujuan, manfaat penelitian, penegasan istilah, dan sistematika skripsi.

-    BAB II : Landasan teori, yaitu bab yang menguraikan tentang kajian pustaka baik dari buku-buku ilmiah, maupun sumber-sumber lain yang mendukung penelitian ini.

-    BAB III : Metodologi penelitian, yaitu bab yang menguraikan tentang objek penelitian, variabel, metode penelitian, metode pengumpulan data, dan metode analisis data.

-    BAB IV : Hasil penelitian dan pembahasan, yaitu bab yang menguraikan tentang hasil penelitian dan pembahasan dari data yang telah diperoleh.

-    BAB V : Simpulan dan saran, yaitu bab yang berisi simpulan hasil dan saran serta hasil penelitian.

3.    Bagian akhir skripsi: terdiri dari daftar pustaka dan lampiran.

Sekolah Gratis Bukan Mimpi

JUDUL ARTIKEL : SEKOLAH GRATIS BUKAN MIMPI

KOMPAS, SENIN 19 NOVEMBER 2007

OLEH : BUDI SUWARNO

Finlandia pada awal musim semi, pertengahan September lalu. Udara mulai berkabut dan dingin hingga menusuk tulang. Namun, hal itu sama sekali tidak menghalangi para murid untuk datang dengan sepeda ke Torpparinmaki Comprehensive School di pinggiran ibukota Helsinki.

Pagi itu saya diberi kesempatan oleh Kementrian Luar Negeri Finlandia untuk melihat proses belajar-mengajar disekolah yang memberikan pendidikan dasar dari kelas I hingga kelas IX. Bangunan sekolah itu tidak mewah. Bentuknya bahkan lebih mirip gudang atau gedung olahraga bulu tangkis. Namun, ini adalah salah satu sekolah yang katanya berkualitas tinggi di Finlandia.

Di sekolah ini tercatat 420 siswa yang terdiri dari 380 murid umum dan 40 murid yang perlu mendapat perlakuan khusus. “Murid khusus” ini adalah murid yang memiliki masalah sehingga perlu diberi perlakuan khusus. Ada yang sulit belajar atau stres karena orang tua bercerai.

Di Finlandia, kasus perceraian sangat tinggi, hampir 50 persen perkawinan. Akibatnya, banyak anak-anak yang bermasalah disana. Mereka inilah yang perlu mendapat perhatian khusus.

Pada murid khusus ini biasanya ditangani oleh guru konseling. Jika kasusnya agak berat, mereka akan ditangani oleh psikolog. Murid khusus yang sudah bisa mengatasi masalahnya akan bergabung lagi di kelas umum.

Sulit membedakan mana yang tergolong murid khusus dan mana yang bukan. Pasalnya, para murid khusus ini tidak dipisahkan dari murid lainnya ketika belajar. “Kami sengaja tidak memisahkan mereka untuk menghindari stigma negatif,” ujar Sampsa Vuorio, seorang guru di sekolah itu.

Sekedar catatan, di sekolah itu terdapat 30 guru yang mengajar penuh dan 20 anggota staf sekolah. Di luar itu, ada beberapa relawan yang membantu proses belajar-mengajar di sekolah tersebut. Sebelum bergabung di sekolah itu, para guru harus melalui proses penyaringan yang sangat ketat. Hanya lulusan terbaik yang bisa menjadi guru. Kualitas guru memang menjadi faktor utama keberhasilan sistem pendidikan di Finlandia.

Suasana belajar di sekolah itu secara umum tampak berbeda dengan suasana belajar sekolah di Indonesia. Di Torpparinmaki, proses belajar-mengajar tidak dilakukan di kelas-kelas besar seperti di Indonesia. Murid tampak belajar dimana saja di hampir semua sudut sekolah. Murid kelas I hingga kelas IX bisa saja belajar ditempat yang sama dengan mata pelajaran berbeda-beda.

Di sebuah ruangan yang lebih mirip selasar, 10 murid dengan tekun belajar dengan menggunakan komputer. Ada yang belajar mengarang, matematika, desain, dan belajar bahasa Inggris, Swedia, atau Bahasa Jerman. Di aula ada beberap anak yang belajar melukis.

Vuorio menjelaskan, sistem pendidikan di Finlandia memang disesuaikan dengan kebutuhan siswa. Siswa yang tertinggal di mata pelajran tertentu, misalnya akan mendapatkan kelas ekstra. “Kami memberi ketentuan, untuk kelas VIII, misalnya, siswa harus memiliki kemampuyan matematika hingga tingkat tertentu. Jika siswa membutuhkan, kami sediakan kelas ekstra,” kata Vuorio.

Untuk jangka waktu tertentu, guru akan mengevaluasi hasil pembelajaran di konferensi guru. Pada kesempatan ini, guru akan membahas kekurangan dan kelebihan metode belajar yang berlangsung di sekolah. Evaluasi ini tidak ada kaitannya dengan naik tidaknya siswa ke kelas lebih tinggi, sebab di Finlandia tidak ada siswa tinggal kelas.

“Kebijakan tidak menaikkan siswa itu kami anggap tidak baik. Ini akan menggangu kepercayaan diri siswa,” ujar Vuorio.

Pemerintah sendiri mengukur kualita pendidikan dengan Ujian Nasional (UN). Namun UN tidak digelar setiap tahun untuk setiap mata pelajaran. Tes bahasa Inggris misalnya, hanya dilakukan di kelas V IX.

Ujian ini juga tidak diikuti oleh semua siswa. Pemerintah akan menentukan peserta dengan cara random di kelompok siswa cerdas, menengah dan kurang. Hasil ujian ini digunakanuntuk bahan evaluasi, bukan untuk menentukan kenaikan kelas atau kelulusan siswa seperti di Indonesia.

Siswa yang menyelesaikan pendidikan dasar sembilan tahun kemudian meneruskan pendidikan ke sekolah menengah setingkat SMA. Setelah itu, siswa bisa mengikuti ujian masuk universita atau politeknik.

Semua gratis

Siang itu, saya juga memiliki kesempatan makan siang bersama rtuasn iswa Torpparinmaki. Berbagai menu makan siang yang bergizi tersedia mulai dari susu, roti, pasta, ikan asap, dan sup. Semua itu disediakan sekolah secara gratis.

Biaya pendidikan di Finlandia seluruhnya gratis, mulai pendidikan dasar hingga universitas. Pemerintah bahkan menyediakan bus jemputan untuk murid sekolah dasar. Jika tidak ada bus jemputan, pemerintah memberikan subsidi uang transportasi untuk siswa.

Di luar itu, pemerintah menyediakan buku-buku dan perpustakaan lengkap. Kasarnya, murid di Finlandia tinggal datang ke sekolah untuk belajar tanpa memikirkan biaya makan siang, ongkos dan buku.

Pemerintah menyediakan anggaran 5200 euro atau sekitar 70 juta rupiah untuk setiap siswa per tahun. Leo Pahkin, konselor pendidikan dari Badan Pendidikan Nasional Finlandia menyebutkan setiap tahun ada sekitar 5200 murid pendidikan dasar. Dengan demikian, anggaran yang disediakan pemerintah untuk murid pendidikan dasar mencapai Rp 3,64 triliun per tahun.

Di Indonesia, anggaran pendidikan dasar sembilan tahun sekitar Rp 21 triliun dari total anggaran pendidikan nasional Rp 43,4 triliun per tahun. Namun, anggaran itu diperuntukkan bagi jutaan murid di seluruh Indonesia.

Dari sisi anggaran pendidikan, Indonesia memang tertinggal. Namun, kualitas pendidikan sebenarnya tidak melulu ditentukan oleh anggran, yang juga penting diperhatikan adalah bgaiman pemerintah memnuat sebuah sistem pendidikan dengan prinsip-prinsip yang kuat dan hasil terukur. Tidak seperti sekarang, sistem pendidikan di Indonesia seolah hanya berkutat pada kontroversi mengenai UN.

Finlandia membuktikan tanpa UN, sistem pendidikanya berhasil menempati urutan satu di dunia.

ANALISIS : SEKOLAH GRATIS BUKAN MIMPI

Artikel ini menjelaskan tentang bagaimana penulis memaparkan pengalamannya di Finlandia tentang pendidikan disana. Pendidikan dasar kelas I hingga IX di Finlandia seluruhnya dibiayai oleh negara. Pemerintahnya menganggarkan 5200 euro atau sekitar 70 juta rupiah untuk setiap siswa pertahun. Pendidikan di Finlandia mempunyai sistem pendidikan yang memang disesuaikan dengan kebutuhan siswa. Siswa yang tertinggal di mata pelajaran tertentu misalnya akan mendapatkan kelas ekstra. Salah seorang guru disana menjelaskan bahwa hingga kelas IV siswa tidak diberi penilaian dengan skor, menurut mereka angka tidaklah terlalu penting, yang penting adalah siswa pada akhirnya menguasai materi pelajaran. Pada jangka waktu tertentu, guru akan mengevaluasi hasil pembelajaran di konferensi guru. Guru membahas kekurangan dan kelebihan metode belajar yang berlangsung di sekolah. Evaluasi tersebut tidak ada kaitannya dengan naik tidaknya siswa kekelas yang lebih tinggi, karena di Finlandia tidak ada siswa tinggal kelas, sebab menurut mereka, siswa yang tinggal kelas akan dapat mengganggu kepercayaan dirinya. Pemerintah mengukur kualitas pendidikan dengan ujian nasional, tapi tidak setiap tahun dilaksanakan, misalnya hanya tes bahasa Inggris untuk kelas V dan IX. Ujian tersebut juga tidak diikuti oleh semua siswa, tetapi pemerintah menentukan peserta dengan cara random dikelompok siswa cerdas, menengah, dan kurang. Bukan seperti di Indonesia yang melaksanakan Ujian Nasional untuk menentukan kelulusan atau tidak, tapi di Finlandia hasil Ujian Nasional hanya untuk bahan evaluasi.

Dari semua kegiatan pembelajaran di Finlandia tersebut, di sekolah ini terdapat 30 guru yang mengajar penuh dan 20 anggota staf sekolah, diluar itu adalah relawan yang membantu proses belajar-mengajar. Guru-guru tersebut sebelum bergabung dengan sekolah itu harus melalui proses penyaringan yang sangat ketat, hanya lulusan yang terbaik yang bisa menjadi guru, karena kualitas guru memang menjadi faktor utama keberhasilan sistem pendidikan di Finlandia.

Tentu sangat beruntung siswa disana karena selain mendapat guru yang sangat profesional, siswa juga benar-benar gratis bersekolah mulai dari bus jemputan untuk sekolah gratis, menyediakan buku-buku dan perpustakaan lengkap hingga makan siang yang bergizi yang disediakan oleh sekolah. Dari contoh proses pendidikan di Finlandia dapat dijadikan contoh bagi Indonesia, yang pada saat ini sedang mengusahakan program sekolah gratis. Dari sisi anggaran, indonesia memang kurang, tetapi pemerintah Indonesia penting memperhatikan bagaimana pemerintah membuat sistem pendidikan dengan prinsip-prinsip yang kuat dan hasil terukur, supaya perkembangan pendidikan dapat dilihat dan dirasakan oleh seluruh warga masyarakat di Indonesia. Pada prosesnya sekolah gratis yang akan dilaksanakan atau yang sedang diprogramkan ini tentu pemerintah harus juga memperhatikan kualitas yang akan diberikan, juga kesejahteraan guru yang tentunya juga harus diperhatikan karena tanpa guru kegiatan pembelajaran tidak akan tercapai. Dari artikel tersebut dapat kita lihat bagaimana Finlandia melaksanakan sistem pendidikannya yang dapat dijadikan perbandingan di Indonesia bahwa Indonesia ini sekolah gratis bukanlah mimpi karena program ini akan terlaksanan berkat kerjasama dengan orang-orang yang terlibat langsung dalam dunia pendidikan.

DOWNLOAD ARTIKEL INI DALAM FORMAT MICROSOFT WORD (.doc) KLIK DISINI

Panduan KTSP dari BSNP

Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Tujuan tertentu ini meliputi tujuan pendidikan nasional serta kesesuaian dengan kekhasan, kondisi dan potensi daerah, satuan pendidikan dan peserta didik. Oleh sebab itu kurikulum disusun oleh satuan pendidikan untuk memungkinkan penyesuaian program pendidikan dengan kebutuhan dan potensi yang ada di daerah.

Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang beragam mengacu pada standar nasional pendidikan untuk menjamin pencapaian tujuan pendidikan nasional. Standar nasional pendidikan terdiri atas standar isi, proses, kompetensi lulusan, tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, pengelolaan, pembiayaan dan penilaian pendidikan. Dua dari kedelapan standar nasional pendidikan tersebut, yaitu Standar Isi (SI) dan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) merupakan acuan utama bagi satuan pendidikan dalam mengembangkan kurikulum.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 (UU 20/2003) tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 (PP 19/2005) tentang Standar Nasional Pendidikan mengamanatkan kurikulum pada KTSP jenjang pendidikan dasar dan menengah disusun oleh satuan pendidikan dengan mengacu kepada SI dan SKL serta berpedoman pada panduan yang disusun oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). Selain dari itu, penyusunan KTSP juga harus mengikuti ketentuan lain yang menyangkut kurikulum dalam UU 20/2003 dan PP 19/2005.

Panduan yang disusun BSNP terdiri atas dua bagian. Pertama, Panduan Umum yang memuat ketentuan umum pengembangan kurikulum yang dapat diterapkan pada satuan pendidikan dengan mengacu pada Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar yang terdapat dalam SI dan SKL.Termasuk dalam ketentuan umum adalah penjabaran amanat dalam UU 20/2003 dan ketentuan PP 19/2005 serta prinsip dan langkah yang harus diacu dalam pengembangan KTSP. Kedua, model KTSP sebagai salah satu contoh hasil akhir pengembangan KTSP dengan mengacu pada SI dan SKL dengan berpedoman pada Panduan Umum yang dikembangkan BSNP. Sebagai model KTSP, tentu tidak dapat mengakomodasi kebutuhan seluruh daerah di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan hendaknya digunakan sebagai referensi.

dibawah ini adalah petikan dari Kata Pengantar BUKU Pnaduan KTSP – BSNP:

Buku Panduan ini dimaksudkan sebagai pedoman sekolah/madrasah dalam mengembangkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah. Sebagaimana ketentuan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, setiap sekolah/madrasah mengembangkan kurikulum berdasarkan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) dan Standar Isi (SI) dan berpedoman kepada panduan yang ditetapkan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). Panduan Penyusunan KTSP terdiri atas dua bagian, yaitu bagian pertama berupa Panduan Umum dan bagian kedua berupa Model KTSP.

Satuan Pendidikan yang telah melakukan uji coba kurikulum 2004 secara menyeluruh diperkirakan mampu secara mandiri mengembangkan kurikulumnya berdasarkan SKL, SI dan Panduan Umum. Untuk itu Panduan Umum diterbitkan lebih dahulu agar memungkinkan satuan pendidikan tersebut, dan juga sekolah/madrasah lain yang mempunyai kemampuan, untuk mengembangkan kurikulum mulai tahun ajaran 2006/2007.

Bagian kedua Panduan Penyusunan KTSP akan segera menyusul dan diharapkan akan dapat diterbitkan sebelum tahun ajaran baru 2006/2007. Waktu penyiapan yang lebih lama disebabkan karena banyaknya ragam satuan pendidikan dan model kurikulum yang perlu dikembangkan. Selain dari pada itu, model kurikulum diperlukan bagi satuan pendidik yang saat ini belum mampu mengembangkan kurikulum secara mandiri. Bagi satuan pendidikan ini, mempunyai waktu sampai dengan tiga tahun untuk mengembangkan kurikulumnya, yaitu selambat-lambatnya pada tahun ajaran 2009/2010.

BSNP menyampaikan penghargaan dan ucapan terima kasih kepada banyak pakar yang berasal dari berbagai Perguruan Tinggi, Pusat Kurikulum dan Direktorat di lingkungan Depdiknas, serta Depag. Berkat bantuan dan kerjasama yang baik dari mereka, Buku Panduan Penyusunan KTSP ini dapat diselesaikan dalam waktu yang relatif singkat.

untuk mendownload Panduan KTSP – BSNP klik disini

dan materi KTSP lain:

- download Panduan KTSP – BSNP

- download Model KTSP SMP

- download materi KTSP

- download Model IPS Terpadu KTSP

Materi Pembelajaran Kontekstual (CTL)

Pembelajaran Kontekstual atau dikenal dengan CTL (Contextual Teaching and Learning) jika ditelaah maka sangat cocok diterapkan pada proses pembelajran di Indonesia. Konsep CTL ini sepertinya hampir mirip dengan konsep CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif) bahwa siswa dituntut peranannya dalam proses pembelajaran. Keaktifan siswa sangat penting dalam kegiatan belajar mengajar.

Perbedaannya bahwa dalam CTL atau pembelajaran Kontekstual ini lebih kompleks, baik guru maupun siswa harus dapat menjalankan fungsinya dengan baik sehingga mampu menghasilkan output yang berkualitas. Dalam Pembelajaran kontekstual terdapat adanya keterkaitan materi dengan dunia luar atau keadaan yang sebenarnya dan terkini sehingga diharapkan adanya pengalaman visual terlebih dahulu yang dapat dibangun oleh siswa.
Penjelasan diatas memang masih secuil materi dari konsepsi CTL, untuk lebih mengetahui dan memahami tentang materi pembelajaran kontekstual atau CTL, silahkan download beberapa materi tentang CTL dari link di bawah ini.

download materi CTL 1 KLIK DISINI

download materi CTL 2 KLIK DISINI

download materi CTL 3 KLIK DISINI

download materi CTL 4 KLIK DISINI

download materi CTL 5 KLIK DISINI

Semoga materi-materi ini dapat lebih menambah dan memperdalam pengetahuan kita.

Download Model Pembelajaran Efektif

Pembelajaran memang harus tidak dilakukan secara sembarangan, diperlukan mulai dari perencanaan yang matang, pembuatan perangkat pembelajaran, pemilihan strategi, media, teknik, model pembelajaran, hingga evaluasi pembelajaran yang semua itu saling berkesinambungan.

Salah yang perlu diperhatikan dalam pembelajaran adalah penggunaan model-model pembelajaran yang efektif dan inovatif agar dalam pembelajaran yang dilakukan dapat lebih variatif dan berjalan lancar. Penggunaan model pembelajaran ini juga disesuaikan dengan materi yang akan diajarkan sehingga kesesuaian antara keduanya dan semua komponen menjadi tepat guna.

Untuk mengetahui model-model pembelajaran yang efektif dan inovatif, download powerpoint presentasinya klik disini, atau klik link dibawah ini

http://www.ziddu.com/download/4454521/Mmodel_model_pembelajaran_efektif.ppt.html

dalam powerpoin presentation ini terdapat sekitar 40 model pembelajaran efektif dan inovatif. download klik link diatas.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.